Netherlands Indische Spoorweg ( NIS )

Het Hoofdkantoor van de Netherlands-Indische Spoorweg Maatschappij ( NIS ) adalah Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta yang dibangun pada 27  Februari 1904 dan selesai pada tahun 1907 oleh Belanda. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang ( sekarang Jalan Pemuda ). Bangunan ini juga tidak jauh dari bundaran Wilhelminaplein ( sekarang Tugu Muda ).

Bangunan ini sempat digunakan sebagai gedung Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia ( DKARI ) setelah kemerdekaan, kemudian dipakai sebagai Kantor Badan Prasana Komando Daerah Militer ( Kodam IV/Diponegoro ) dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Juga menjadi saksi bisu pertempuran pemuda AMKA ( Angkatan Muda Kereta Api ) melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang di tahun 1945. Detik ini bangunan sarat sejarah perkeretaapian Indonesia telah dimasukkan sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno di Semarang dan masyarakat setempat sering menyebutnya Lawang Sewu. ( sumber Wikipedia )

Lawang Sewu 2012
Lawang Sewu 2012

Lawang Sewu mendadak terkenal semenjak masuk di salah satu acara stasiun televisi swasta bertajuk “Dunia Lain” yang memperlihatkan penampakan sosok makhluk halus yang bukan kepalang seramnya ( bisa browse di Youtube untuk menyaksikannya ).

Pertama kali menginjakkan kaki di Lawang Sewu pada tahun 2008 dimana bangunan masih terlihat angker karena belum ada perawatan khusus dari pemerintah setempat. Cat tembok sudah mengelupas semua, atap genteng banyak yang lubang, langit-langit di tiap lorong sudah banyak yang keropos termakan usia, hanya tersisa keramik yang masih utuh dan kaca mozaik peninggalan Belanda yang masih terlihat megah. Bangunan kuno tersebut hanya dirawat seadanya oleh penduduk yang tinggal di area Lawang Sewu.

Setiap turis yang datang cukup mengisi buku tamu dan membayar uang sukarela untuk guide yang WAJIB mengantarkan rombongan masuk ke dalam bangunan. Lawang Sewu memiliki bentuk bangunan seperti huruf L, yang berhubungan satu sama lain. Melintasi pintu utama terlihat tangga marmer yang berlatar belakang kaca mozaik. Tangga tersebut titik tengah bangunan, bisa belok kiri atau kanan terlebih dahulu untuk mengelilingi seluruh bangunan. WAJIB memakai jasa guide karena bangunan masih belum ada penerangan sama sekali dan beberapa ruang masih terlihat berantakan seusai digunakan syuting sebuah film horor waktu itu.

Guide kami mas berperawakan agak gemuk fasih menceritakan sejarah Lawang Sewu dari A sampai Z, penjelasannya mudah dimengerti bagi rombongan penakut macam kami. Lantai satu kami telusuri dengan penerangan ala kadarnya ( senter dan hape ) sambil manggut-manggut mendengar penjelasan mas guide. Menyusuri lorong-lorong yang punya ratusan pintu dan jendela membuat sedikit bergidik membayangkan bagaimana cara keluar dari bangunan yang terlihat seperti labirin ini jika tersesat? #abaikan.

Naik ke lantai dua melewati tangga yang agak horor, mas guide bicara seperti ini, “Coba berhenti di tangga ketiga dari atas, mas…trus langsung foto aja. Kalau beruntung bisa dapat penampakan banyak.” Dem!!!! Rasa penasaran dan takut campur aduk jadi satu adonan, akhirnya saya naik mengikuti teman saya yang lain ketimbang saya ditinggal di lantai bawah sendirian. Naik perlahan ke lantai dua, perasaan sudah tidak enak…

Hawa sejuk di bawah sudah tidak terasa di lantai dua yang terdapat aula seluas lapangan sepak bola. “Kok bisa panas begini, mas?”, mas guide cuma diam sambil mengelap keringatnya yang sudah mengucur deras dan membasahi kaos oblongnya. Hening…. Selesai mengintari lantai dua yang panas kami digiring turun melewati sisi bangunan yang lain melalui tangga putar yang tembus di sebuah ruangan gelap gulita. Kriet…kriet… Mas guide cerita bahwa tangga yang terbuat dari besi ini sudah berumur seratus tahun lebih dan masih kuat, namun cari aman kami turun satu persatu ( teman saya waktu itu kebetulan bertubuh subur semua, hehe ).

Keluar dari bangunan barulah mas guide bercerita sedikit tentang perbedaan suhu antara lantai atas dan bawah tadi. “Bingung ya, mas ngerasain panas di lantai atas padahal bangunan nya tinggi dan banyak ventilasi udaranya?” tanya mas guide, “Kenapa kok bisa begitu?” tanya saya. “Kalo siang kerasa panas di ruangan meski udara di luar dingin, itu berarti ada banyak makhluk halusnya di situ. Kalau malam hari baru terasa dingin.” jawabnya santai meski kaosnya masih basah kuyup.

Selesai mengelilingi semua sudut, mas guide menantang kami untuk mencoba uji nyali dengan masuk ke lantai bawah tanah Lawang Sewu alias penjara bawah tanah! Baiklah! “Di penjara bawah tanah guidenya beda ya mas, mbak ini yang jadi guide sampeyan.” kata mas guide sambil menunjuk mbak guide. “Jumlah orangnya nggak ganjil kan?” tanya mbak guide yang entah apa maksudnya.

Selesai membayar jasa guide pengganti untuk penjara bawah tanah, kami memakai sepatu boot yang disediakan ( membayar sewa sepatu boot 5.000 ) dan membawa senter. Lantai tergenang air hujan semalam membuat langkah kaki terasa agak berat melangkah, mbak guide berhenti dan menunjuk di tengah kegelapan sebuah kolam yang terlihat seperti kolam ikan berukuran 2 meter x 2 meter dengan tinggi sekitar setengah meter. “Itu penjara jongkok, mas. Dulu diisi 20 tahanan yang jongkok sampai mereka dipasung.”.

Bulu kuduk langsung berdiri. Berjalan menyusuri lorong gelap, mbak guide menyorotkan lampu senternya di tembok cekung berjajar lumayan banyak, “Kalau yang ini penjara berdiri, cuma diisi 5 tahanan. Lihat temboknya…ada banyak paku yang memang sengaja dipasang agar mereka mati tertusuk besi tajam itu tanpa perlu dipasung.”. Di masa pendudukan Belanda, bangunan bawah tanah ini digunakan sebagai ruang pendingin yang membuat ruang di lantai satu terasa sejuk, bukan seperti yang dilakukan oleh Jepang yang membuat tempat ini sebagai tempat pembantaian.

Sinar matahari melewati sebuah ventilasi lumayan besar yang kami lewati saat akan keluar. “Kalau ini lobang apa, mbak?” tanya saya sambil lanjut jeprat-jepret. “Oh..lubang ini tempat pembuangan kepala yang dipasung dari penjara jongkok. Kepala mereka dibawa kesini, saat debit air sungai naik kepala-kepala tadi langsung dilempar ke sungai.”. #telenludah berharap foto jepretan saya nggak banyak nonggol kepala tahanan jaman Jepang. ( Terdapat 88 penjara jongkok, dan 14 penjara berdiri di Lawang Sewu – info tahun 2012 ) Jalan masuk kami juga merupakan jalan keluar dari penjara tersebut. Sebelum keluar kami memutuskan mengambil foto di lorong yang dibuat uji nyali tersebut. Senter kami matikan dan jepret…. ( muncul sosok yang masih menjadi bahan pertanyaan saya, mungkin efek cahaya flash atau mungkin betul ada bayangan yang muncul, namun demi keamanan bersama tidak saya pasang di sini  )

Keluar dari ruangan pengap tersebut kami debat kecil hasil telusur penjara, “Tadi denger suara kecipak-kecipak kaya orang lari nggak?”, “Loh, aku malah denger suara kaya anak kecil nangis.”, “Nggak denger apa-apa kok…”. Who know?

Di atas hanya sepenggal cerita saya di tahun 2008 silam. Saat mengunjungi Lawang Sewu di tahun 2010, bangunan tersebut sedang dilakukan konservasi dan revitalisasi besar-besaran oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api Persero, sehingga terlihat banyak dinding yang dicat ulang menyesuaikan warna asli, genteng yang disusun ulang dan diganti dengan yang baru, beberapa bangunan dipugar tanpa mengubah bentuk asli untuk dijadikan museum, penjara bawah tanah yang ditutup karena sedang diuji coba pemasangan lampu.

Bulan November lalu, Lawang Sewu sudah lebih tertata. Ada loket resmi yang menjual tiket seharga 10.000 untuk orang dewasa, 5.000 untuk anak berusia 3-12tahun dan pelajar. Untuk jasa guide dipatok seharga 25.000 untuk bangunan utama dan harga yang sama untuk penjara bawah tanah. Bangunan menjadi lebih terasa sebagai museum kereta api. Terdapat satu ruang pameran yang berisi koleksi foto lawang Sewu dari masa ke masa serta sejarah pembangunan rel kereta api se-Jawa oleh Belanda.

Bangunan kecil dekat pohon mangga ( yang konon angker karena ada penampakan noni Belanda ) telah dijadikan museum yang menceritakan perjalanan tahap konservasi dari tahun ke tahun dan memperlihatkan bahan bangunan yang digunakan bangunan asli serta poster blueprint Lawang Sewu yang terlihat jelas. Update penjara bawah tanah, kondisi sekarang tidak terasa horor lagi karena sudah banyak penerangan di setiap sudut, bahkan ada peringatan yang berinti dilarang melakukan kegiatan ritual atau mistis di area penjara bawah tanah.

Lawang Sewu BUKAN wisata HororLawang Sewu adalah wisata SEJARAH, kawan!

Info penting, Lawang Sewu buka mulai pukul 7 pagi sampai 9 malam, bagi yang mau uji nyali penjara bawah tanah di malam hari, monggo… 🙂

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. cerita-cerita horor pada bangunan bersejarah kadang bisa menjadi “nilai jual” dari tempat itu sendiri sehingga banyak orang yg penasaran untuk mengunjungi 😀

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Cuma bisa berharap jangan sampai cerita horor malah membuat pengunjung jadi enggan masuk ke museum keren ini saja 🙂

      Like

  2. Avant Garde says:

    sosok apa mas? cewek ya

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Kalau yg beneran muncul di acara televisi sosok cewe seperti gambaran “halus” khas Indonesia 🙂
      Masuk tiga kali di penjara bawah tanah Lawang Sewu cuma denger suara aneh dua kali aja, selebih dari itu tempatnya sudah beraura positif karena sudah ramai pengunjung setiap harinya 🙂

      Like

    2. Avant Garde says:

      wah..aku gak berani, dulu masih hingar bingar acara uji nyali di trans tv yang heboh karena peserta uji nyalinya meninggal

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s