Rainy and Lonely BALI – LOMBOK Journey

Berawal dari tiket obral Mandala Airlines yang sekarang sudah join dengan perusahaan pesawat Singapore, Tiger Airways punya promo gila buat rute SUB-DPS return tiket seharga 60.200 rupiah!! Perjalanan yang tak terencana, kurang observasi tujuan wisata, spontanitas, but it called The Journey….

10 December 2012,
Pagi pukul 06.00 saya segera berangkat menggunakan bus M*RA jurusan Solo ke Surabaya, lama perjalanan Solo menuju ke Surabaya kurang lebih 6 jam untuk melanjutkan perjalanan dengan pesawat pukul 15.00. Di tengah perjalanan, tiba-tiba pak supir menyalakan siaran berita di televisi yang ada di dalam bus, dan eng ing eng…disiarkan bahwa bus M*RA mengalami kecelakaan tadi siang menabrak mobil, dan kondisi pengemudi mobil luka parah. Mendadak seisi bus heboh ngegossip bahwa kemarin sore bus M*RA juga salto udara dan terperosok di ladang sawah di daerah Trowulan-Mojokerto yang kebetulan baru saya lewati 1 jam yang lalu *telen ludah*.

Airbus320 Mandala
Airbus320 Mandala

Mandala Airlines yang sudah diambil alih oleh perusahaan Tiger Airways punya service yang nggak semurah harga pesawatnya, hampir imbang dengan service AirAsia dengan kondisi pesawat tipe Airbus 320 yang masih baru dan bersih untuk rute SUB-DPS yang saya gunakan. Pukul 16.50 WITA pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai yang masih terlihat sama seperti kondisi delapan bulan sebelumnya. Semrawut dan tidak rapi akibat renovasi bangunan bandara baru. Untuk menuju tempat penginapan di daerah Poppies Lane, saya memutuskan untuk berjalan kaki dari airport, hanya 45 menit saja kawans. Serius…

badan pesawat bertuliskan Mandala, ekor pesawat motif TigerAirways
badan pesawat bertuliskan Mandala, ekor pesawat motif TigerAirways
clear sky
clear sky
bandara Ngurah Rai yang masih berbenah
bandara Ngurah Rai yang masih berbenah

Selesai cek in di Losmen Arthawan yang terletak di Gang Poppies Lane Dua ( 60.000/malam, double bed, fan, include breakfast ). Losmen Arthawan ini merupakan penginapan favorit para backpacker lokal maupun mancanegara dikarenakan kualitas dan fasilitas Arthawan yang hampir sama dengan guesthouse lain dan tentunya memiliki harga kamar paling murah se-Poppies Lane.

Selesai dengan urusan penginapan, saya segera mencari rental sepeda motor untuk digunakan keliling Bali keesokan harinya dan mencari tahu info tentang transportasi umum dari Kuta ke Padangbay. Pulau Bali masih belum mempunyai moda transportasi yang mumpuni untuk bepergian dari satu kota ke kota yang lain, mau tidak mau harus naik travel, taxi atau sewa mobil / sepeda motor.

sunset Pantai Kuta
sunset Pantai Kuta

11 December 2012,
Cerah sekali langit pagi itu…dan langsung tancap gas menuju kawasan Tampak Siring yang sudah masuk dalam planning. Perjalanan dari Kuta menuju Tampak Siring kurang lebih 2,5 jam melewati Sanur…dan Prittttt…Prittttt… Razia kendaraan bermotor menghentikan laju sepeda motor sewaan saya. “ID Card and Drive License please…”  kata pak polisi, “Erg..saya orang Indonesia, pak…dari Jawa”, “Oalah…mana SIM dan STNK kamu?”. Segera saya sodorkan SIM yang untungnya masih berlaku dan STNK dari rental yang terselip di dalam jok sepeda motor berbentuk fotokopian. Glek….

Hasil ketidakjelian waktu menyewa motor memaksa saya melakukan tindakan menyogok 20.000 ke polisi korup yang memaksa saya bayar dia atau ikut sidang ( turis yang berlibur dua hari masa disuruh sidang? sebenarnya kata “SIDANG” hanya gertakan para polisi korup, itu cuma #kode supaya dikasih sogokan ) Maaf KPK….
Banyak turis asing yang sepertinya mengalami nasib serupa ( mendapat STNK fotokopian dari rental ), mereka terlihat sangat bingung dan takut akibat ulah para polisi korup. Jadi hikmahnya, saat menyewa sepeda motor di Bali harus dipastikan terlebih dahulu keaslian dan masa berlaku STNK.

sawah di area Gunung Kawi Temple
sawah di area Gunung Kawi Temple

Sedikit badmood namun tetap melaju ke Gunung Kawi Temple. Selesai dari Candi Gunung Kawi, terlihat awan yang sangat mendung, rencana melipir ke Tirta Empul terpaksa saya batalkan dan betul saja…di tengah perjalanan kembali ke Kuta, jalan raya yang semula kering diguyur air hujan yang tidak tanggung-tanggung lagi derasnya. Berteduh berjam-jam sampai akhirnya sore hari tiba di Kuta.

PERAMA Tour Jalan Legian
PERAMA Tour Jalan Legian

Cuaca cerah di pagi hari hanya bentuk tipuan cuaca extreme akhir tahun di Bali dimana siang sampai malam hari pasti hujan deras. Tidak bisa beranjak jauh dari Kuta area, saya masuk ke salah satu mal baru di Kuta yaitu BEACH WALK. Konsep mall ini modern, unik, dan bergaya pantai banget, lebih bagus banggeeettt daripada Discovery Plaza yang sudah terlihat monoton.

Bali mulai berbenah, bukan lagi pulau eksotis yang punya banyak pantai saja, melainkan pulau semrawut yang punya banyak bangunan. Semakin miris bila dibandingkan dengan pulau serupa di luar negeri seperti halnya Pulau Phuket, Thailand yang lebih teratur dalam penataan kotanya ( setelah tsunami ). Okay, lupakan tata kota… kembali ke journey… Setelah banding-banding harga travel ke Padang Bay, ternyata semua travel agent kecil memiliki harga transportasi yang ngawur. Bukan bermaksud promosi, namun PERAMA TOUR yang terletak di Jalan Legian memiliki harga transportasi antar kota yang lebih murah dan aman. Bisa cek di website shuttle bus Perama Tour.

Beach Walk Kuta
Beach Walk Kuta

12 December 2012,
Sesuai jadwal penjemputan bus, saya dan penumpang lain sudah siap di depan kantor Perama Tour pukul 06.00 untuk menuju Padang Bay ( harga bus 60.000 satu kali jalan ). Tiba di Padang Bay pukul 08.20 dan saya langsung bergegas menuju loket penumpang ferry untuk membeli tiket ferry yang berangkat jam 09.00 dari Padang Bay menuju pelabuhan Lembar, Lombok ( harga tiket 36.000 ).

Jadwal ferry Bali ke Lombok ada setiap jam, jadi jangan khawatir menunggu terlalu lama. Perjalanan menyeberangi Selat Lombok ditempuh kurang lebih 4 jam dengan kondisi cuaca yang sedang bagus. Ini merupakan perjalanan kedua saya menyeberangi Selat Lombok, perjalanan pertama saat overland Flores-Sumbawa-Lombok-Bali tiga tahun silam.

ferry dari PadangBay menuju Lembar
ferry dari PadangBay menuju Lembar

Tiba di pelabuhan Lembar banyak terdapat mobil angkutan semacam travel yang menawarkan jasa antar menuju kota Mataram atau Senggigi, jadi tinggal pilih mau menginap dimana. Saya memilih kota Mataram karena rencana spontan yang berkata ingin menjelajah pantai selatan Lombok terlebih dahulu. Mobil travel membawa saya menuju Mataram Mall yang ditempuh kurang lebih satu jam ( ongkos travel 20.000 ). Mataram Mall merupakan pusat keramaian yang terletak di Jalan Selaparang, Cakranegara. Kawasan ini memiliki banyak fasilitas penginapan mulai dari hotel bintang sampai losmen kelas melati.

penampakan Hotel Srikandi
penampakan Hotel Srikandi

Kurangnya observasi membuat saya nyaris tersesat di Selaparang… Hanya bermodalkan alamat hotel murah yang saya dapatkan dari catatan perjalanan salah satu blogger, membuat saya lupa akan fungsi GPS yang ada di handphone. Malu bertanya akhirnya tersesat juga… itu yang saya alami. Hotel yang saya maksud ada di Jalan Gelatik yang seharusnya terletak tidak terlalu jauh dari mall, namun setelah jalan sejauh 3 km dari Mataram Mall belum menemukan nama jalan tersebut. Melewati komplek pertokoan, pasar, sampai jalan raya terlihat sepi kendaraan.

Hosh…hosh… Bertanya sana-sini dan pasang wajah tanpa malu, akhirnya kembali ke jalan pasar yang saya lewati dan… tak jauh dari situlah jalan yang saya maksud berada. Ampun deh… Hotel Internasional di jalan Gelatik yang saya incar ternyata fully booked, dan berjalan tak jauh dari situ malah menemukan hotel melati yang jauh lebih bersih daripada hotel pertama dengan selisih harga tidak jauh berbeda. Hotel Srikandi ( Jl.Kebudayaan no 2, telp : 0370-626555/632747 ) menjadi tempat singgah saya selama di Mataram, dengan harga 60.000 memiliki twin bed, fan dan termasuk breakfast. Sesaat tersadar, andai ada travelmate yang bisa diajak share room, share kendaraan bermotor alangkah lebih murahnya ongkos perjalanan selama ini #curcol.

pelabuhan Lembar, Lombok
pelabuhan Lembar, Lombok

13 December 2012,
Mendapatkan rental motor di Mataram agak susah, selain tidak banyak terdapat tempat rental seperti di Bali, juga karena turis lokal tidak mudah dipercaya untuk menyewa sepeda motor karena banyaknya kasus pencurian sepeda motor di Lombok oleh turis lokal gadungan. Untungnya saya mendapat sepeda motor sewaan ( 50.000 sehari ) lewat kenalan staff Hotel Srikandi, sehingga hari kedua di Lombok langsung tancap gas, pasang helm, cek SIM dan STNK langsung meluncur ke pantai selatan.

Sepanjang jalan menuju Lombok Selatan membuat saya berdecak kagum atas kepatuhan masyarakat Lombok yang sangat TIDAK mematuhi peraturan lalu lintas, hehe… Lampu bangjo ( abang – ijo ) yang rusak semua, pengendara motor yang tidak menggunakan helm, pos polisi yang tidak berpenghuni, dan nyaris tidak ada bunyi klakson. Wow! Menurut saya kondisi lalu lintas seperti ini malah bagus sekali, asal masyarakat selalu sabar hati dalam mengemudi pasti lalu lintas aman dari segala macam kecelakaan, dan hikmahnya polisi tidak mungkin bisa melakukan aksi korup karena budaya Lombok yang sudah dari sononya seperti ini. Good Job!

Lombok selatan memiliki Pantai Kute dan Tanjung Aan yang saya singgahi, di hari yang sama saya langsung meluncur ke Pantai Senggigi yang merupakan pusat berkumpulnya turis mancanegara di Lombok. Niat menuju Gili Trawangan saya batalkan karena kondisi cuaca yang masih extreme, dan akhirnya pindah halauan melipir ke Pantai Nipah, Bukit Malimbu, Pantai Klui ( cerita pantai-pantai di Lombok silakan langsung klik ). 🙂

14 December 2012,
Hujan deras hari itu membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan keliling Lombok. Cek out dari hotel saya langsung berjalan menuju Toko Tiara ( Jl. Aa Gedhe Ngurah ) yang terletak tidak jauh dari hotel untuk naik angkutan umum menuju pelabuhan Lembar. Harga yang dikenakan sama seperti harga dari pelabuhan Lembar menuju Mataram, yaitu 20.000 rupiah saja. Memang waktu untuk explore Lombok sangat cepat sekali…dalam hati hanya bisa berkata: “Lombok, tunggu kedatangan saya di musim kemarau yah, musim penghujan cuma bisa melihatmu sebentar saja.”  😦

ferry Shindu
ferry Shindu

Pukul 12.00 ferry menuju pelabuhan Padang Bay berangkat dan kembali mengarungi Selat Lombok selama 4 jam. Ferry yang saya naiki kali ini serasa seperti naik pesawat terbang, berbanding terbalik dengan kondisi ferry sebelumnya. Ferry milik perusahaan SINDHU ini memiliki kursi empuk layaknya gedung bioskop 21cineplex, pintu geser ruangan yang memakai sensor, toilet yang selalu bersih dan berkelas ( kran wastafel dan urinoir-nya pakai sensor ). Tempat duduk yang disediakan di dalam ruangan ber-AC terdapat kurang lebih 70 kursi empuk ditambah sofa panjang yang lumayan banyak, sedangkan di luar ruangan terdapat bangku dilengkapi meja untuk nyeruput kopi sambil menikmati pemandangan Gunung Rinjani dan Gunung Agung. Wuih… ternyata lain perusahaan ferry, lain servicenya. Andai semua perusahaan ferry menyediakan fasilitas seperti ini pasti para wisatawan akan betah lama disini.

view Gunung Agung dari ferry
view Gunung Agung dari ferry
family vacation? Maybe...
family vacation? Maybe…
penampakan lumba-lumba di Selat Lombok
penampakan lumba-lumba di Selat Lombok

Tiba di Padang Bay pukul 16.00 dan susah sekali mencari bus menuju kota lain di Bali, adapun tawaran mobil travel yang mematok harga bule. Cuaca yang extreme menjadi alasan saya bergegas pulang via darat tanpa menghiraukan tiket pesawat kembali Surabaya yang seharusnya tertera sampai tanggal sekian sekian ( tanggal dirahasiakan hehe ). Akhirnya terpaksa menyewa jasa ojek yang membawa saya ke terminal Ubung ( 30.000 rupiah ).

Sesampainya di terminal Ubung, saya segera naik bus Buana Raya yang akan membawa saya menuju Gilimanuk ( harga tiket bus 30.000 ). Memasuki daerah Tabanan jalan raya yang semula lancar menjadi macet total tidak bergerak sama sekali. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh bus dari Ubung ke Gilimanuk selama 4 jam menjadi sepuluh jam. Parahnya lagi tidak terlihat sama sekali polisi yang mengatur lalu lintas kacau tersebut! What $#%^&##%!?!?

Pulau Dewata seperti yang saya katakan diawal, sudah bukan menjadi destinasi wisata lagi namun menjadi destinasi bisnis dengan tata ruang kota yang semakin tidak tertata dan amburadul akibat lonjakan manusia yang kapasitasnya melebihi ruang. Macet yang saya alami ini berkat kecelakaan beruntun di jalanan berkelok-kelok dan sangat sempit di Tabanan. Truk besar yang lalu lalang membuat jalan sempit menjadi lebih sempit sehingga tidak heran sering terjadi kecelakaan disini. Berjalan 1 meter, macet satu jam, berjalan 2 meter, macet dua jam, dan seterusnya. Berangkat pukul 18.00 dari terminal Ubung dan sampailah di Gilimanuk pukul 04.00 keesokan hari. Arggggghhhhh…….

pelabuhan Padang Bay
pelabuhan Padang Bay

15 December 2012,
Badan lemas karena tidak sempat makan malam membuat saya hanya berjalan pelan menuju pelabuhan dan membeli tiket 6.000 rupiah untuk menyeberangi Selat Bali menuju Banyuwangi. Tiba di pelabuhan Ketapang saya segera bergegas menuju Stasiun Ketapang Baru yang terletak di seberang pelabuhan untuk membeli tiket Sri Tanjung yang akan membawa saya kembali ke Solo. Loket dibuka pukul 05.00 pagi untuk keberangkatan Sri Tanjung pukul enam pagi dengan harga tiket 35.000 rupiah.

Legaa…. akhirnya perjalanan sudah selesai, batin saya. Ternyata alam berkata lain, kereta api Sri Tanjung yang saya naiki tidak sengaja menabrak orang dan dengan sangat terpaksa jadwal kereta delay satu jam gara-gara sang masinis mengurus korban meninggal dan mengecek apakah ada kerusakan di mesin akibat tabrakan tadi serta mencari bagian tubuh yang mungkin masih nyangkut. Hiiii…….

kereta api Sri Tanjung
kereta api Sri Tanjung

Terminal Solo Jebres yang masih diguyur hujan menutup journey mawut saya, perjalanan kapal dari pelabuhan Lembar-Padang Bay 4  jam, bus dari terminal Ubung-Gilimanuk 10 jam, kapal dari Gilimanuk-Ketapang 45 menit, dan kereta api dari Banyuwangi-Solo 13 jam…  Capek? Pastilah… Happy? Bangett…

My Journey like a wheel, sometime it stop, sometime it spin… I don’t know when my lucky comes and when the bad things come. Yeah..it called the Journey. 😉

“Dunia itu seluas langkah kaki.
Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah.
Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya”
by SOE HOK GIE ( 17 Dec 1942 – 16 Dec 1969 )

******

Advertisements

23 Comments Add yours

  1. Fahmi Anhar says:

    Tsahhhhh ini judul trip nya nggrantes banget
    jalan ksana ksini sendiri, mendung, bener² bocah ilang kamu Lim hahaha
    so many ways to enjoying this life, rite?

    Like

    1. Rite banget, kawan… Ini baru petualangan… hehe…
      Kalo belom ilang bukan bocahilang namanya 😉

      Like

  2. Sadam says:

    haha.. perjuangan banget journeynya.. kueren kesabarannya.. nasibku juga kayak gitu kmrn pas ke Bali, macet 3jam di pelabuhan dan macet di sepanjang jalan Gilimanuk-Mengwi.. journey oh journey..

    Like

    1. Malah asyik kan? Hehe…kalo pergi terplanning dan nemu hal baik terus rasanya ada yg kurang…kurang seru petualangannya dan kerasa hambar ngerasain gitu-gitu aja, setuju? Hehe… 😉

      Like

    2. Sadam says:

      haha, setuju… gak “terlalu” asik kalo planningnya bener2 mulus XD.. dtunggu next postingannya..

      Like

    3. Postingan brikutnya lagi ditulis…ditunggu dgn sabar ya 😉

      Like

  3. cumi says:

    arthawan masih jadi juara yaa di poppies hehehehe

    Like

    1. Betulll banget hehe….dulu nggak pernah dapet kamar di Arthawan, pas dapet…wuihh girang stengah mati ampe jingkrak-jingkrak #lebay :-p

      Like

  4. Andifumi says:

    WTF! What a journey teman! Hahahahahaa…mantab bgt! “Lombok, tunggu kedatangan saya di musim kemarau yah, musim penghujan cuma bisa melihatmu sebentar saja.” 😦 —–> tak kancaniiii!

    Like

    1. Hurayy…dapet travelmate hehe…
      Tunggu pesawat obral tiket murah lagi ya kawan 🙂

      Like

  5. Fahmi says:

    kadang kita perlu menyendiri dan menghilang barang sejenak kok 😀 very nice solo trip! jadi kangen deh solo trip kayak orang ilang~~ hehee

    Like

  6. Arie says:

    klo mo traveling ajak2 ya Lim, klo waktunya pas aku pasti ikut…hehehehe

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Siappp 😀

      Like

  7. fulan88 says:

    Halo..saya wulan, nyari info dari bali ke lombok malah nyasar kesini..
    mau tanya dong..kan saya lihat web bus permana nya..
    itu ada yg include udah sama ferrynya..mending beli terpisah atau yg udah include aja ya?ngomong2 nyaman ga ya naek ferrynya..saya ajak orangtua soalnya..budget mepet..tp kasian jg kalo merekanya ga nyaman dan ombaknya terlalu besar..

    thanks anyway

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Halo juga… kebetulan saya belum pernah naik ferry dari Perama, tapi menurut beberapa informasi, ferry tergolong nyaman.

      Jika tujuan wisatanya langsung ke Pantai Senggigi atau Gili Trawangan, lebih enak memakai ferry dari Perama langsung, karena ferry mereka tidak transit ke pelabuhan Lembar, Lombok.
      Waktu tempuh jauh lebih cepat, namun diimbangi laju ferry yang cepat juga. Bila orang tua gampang mabuk laut, siapkan stamina yang fix dulu.

      Semoga bermanfaat 🙂

      Like

    2. fulan88 says:

      saya tadi sempat ym dengan orng perama nya..kan menurut agan, ferry yg Sindhu itu Ok..jadi saya tanya ke pihak mereka apakah ferrynya random atau sama kalau saya pesan tiket bus include ferry..katanya berbeda2..tergantung adanya ferry apa..
      kalau papa si orangnya tahan banting..cuma mama si yg suka mabuk laut..tp udah sering naik kapal dari palembang ke bangka kurleb si 3-4 jam..tapi ombaknya ga begitu besar..baca2 blog orang kok ya selalu menemukan kata2 bahwa ombaknya sangat besar..jadi ragu2..:D

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Ombak antara pulau Bali – Lombok memang lebih dahsyat daripada selat Bali ( Banyuwangi – Bali ).
      Tapi itu masih standard kalo menurutku hehe… Lebih dahsyat lagi ombak saat menyebrang dari Sape ( Bima ) ke Labuan Bajo 😀
      Yang penting stamina OK biar perjalanan lancar, kawan 🙂

      Like

  8. fulan88 says:

    semua ombak udah dirasain ya dahsyatnya.. kagum saya.. 🙂

    sip2..tinggal meneguhkan hati..semoga semuanya lancar2 aja..

    thanks yaa..moga tripnya makin banyak..jadi temen2 yg laen jg bs dapet info dan bisa ikutan jalan2..:D

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Amin… Makasih sudah mampir di blog ini juga 😀

      Like

  9. gan ,blh mnta solusi nya untuk perjalanan dari solo ke lombok ???

    saya mau ke lotim (lombok barat) tolong infonya bisa gan ,atau minta pin BB ny buat ngobrol2…
    skalian tmbh kenal……

    Like

    1. Halo Danar, salam kenal…
      Alangkah lebih baik kirim email pertanyaan ke halimsantoso84@gmail.com, nanti saya akan bantu jawab. Terima kasih 🙂

      Like

  10. Yusuf Ahmad says:

    Baru baca aja sudah kebayang capeknya wakakka

    Like

    1. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Sendiri pula. Tapi bikin nagih juga hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s