Wisata Kuliner Pasar Gede – SOLO

Kota Surakarta atau lebih familiar dengan sebutan Solo adalah kota yang tidak menonjol wisata sejarahnya seperti kota Yogyakarta. Bukan sebuah kota yang punya wisata alam seperti Kabupaten Karanganyar. Meski kalah dari beberapa aspek, makanan tradisional di Kota Solo punya cita rasa kuliner khas daerah yang membuat orang luar kota rela datang hanya untuk berwisata kuliner.

Pasar tradisional yang hampir berumur satu abad bernama Pasar Gede Hardjonagoro menjadi salah satu tujuan pengunjung yang hendak berwisata kuliner di Solo. Jangan ragu masuk ke dalam pasar karena pasar ini sudah direstorasi menjadi lebih tertib dan bersih. Ragam kuliner di sana mudah didapat tanpa perlu mondar-mandir ke pelosok kota demi mendapatkan kuliner asli Solo.

Lalu apa aja sih makanan khas Solo di Pasar Gede yang bikin lidah bergetar saat mencicipi makanan tersebut?

Are you ready?

Nasi Liwet legendaris Solo
Nasi Liwet “Bu Sri” Pasar Gede

Kalau kota Yogyakarta terkenal dengan Nasi Gudheg, Solo terkenal dengan Nasi Liwet yang memiliki rasa gurih pada nasinya. Dulu banyak wisatawan dari luar kota suka dengan warung Nasi Liwet yang berdiri megah di Jalan Keprabon, tapi maaf dari pengalaman saya, nasi liwet Keprabon identik dengan lokasi kuliner wisatawan menengah ke atas. Cita rasa yang sudah berkurang ditambah kalkulator yang kadang sesat membuat saya tidak pernah merekomendasikan tempat tersebut.

Jadi dimana Nasi Liwet enak di Solo? Salah satunya ada di Pasar Gede Hardjonagoro, tepatnya di seberang jalan pasar, bekas kantor DPU. Sejak kecil sampai dewasa ini cuma Nasi Liwet Bu Sri yang cocok dengan lidah ndeso saya. Lapaknya berada di emperan Pasar Ikan selama beberapa tahun. Setelah Pasar Ikan dipindahkan ke Pasar Depok, warung sederhananya per tahun 2016 dipindah ke food court Pasar Gede gedung sebelah barat – lantai dua Pasar Buah.

penjual Nasi Liwet, anak perempuan (alm) Bu Sri
penjual Nasi Liwet, anak perempuan (alm) Bu Sri

Nasi Liwet adalah nasi gurih dengan lauk suwiran daging ayam, dilengkapi dengan telur yang sudah dikukus dan berwana kekuningan, lalu ampas dari santan atau areh yang dikentalkan. Kemudian disiram dengan sambel goreng yang terbuat dari labu siam yang diberi banyak cabai sehingga berwarna kemerahan. Rasa gurih nasi dicampur dengan sambel goreng yang pedas tidak membuat eneg, justru membuat rasanya semakin maknyuss. Tambahan telur kecap membuat rasa gurih dan manis menari-nari di lidah.

Ada baiknya sambel goreng hanya ambil ampas saja tanpa kuah, karena kuah yang terlalu banyak membuat nasi liwet terlihat seperti sup dan hilanglah rasa asli liwet. Prestasi almarhum Bu Sri sudah tidak diragukan, sudah terkenal semenjak masa orba, bahkan beliau pernah diundang khusus ke istana negara oleh Presiden ke-2 RI, Suharto loh. Sekarang lapaknya diteruskan oleh adik perempuannya dengan juru masak anak Bu Sri yang masih mempertahankan resep asli warisan dari ibunya. Harga satu pincuk Nasi Liwet cuma 6.000 rupiah ( sudah termasuk telur kecap ). Murah kan?


Dawet Selasih Pasar Gede
Dawet Selasih yang kaya gizi

Capek jalan-jalan keliling Pasar Gedhe dan masih belum kenyang? Bisa coba mencicipi dessert asli Solo, yaitu Dawet Selasih yang sudah terkenal dan bisa dikatakan ini dawet made in Solo. Kalau nggak makan ini jangan ngaku sudah mampir ke Solo. Hehehe. Kios dawet ini terletak di dalam pasar, tapi jangan heran bila menemui banyak kios dawet telasih dengan rupa mirip, padahal bukan yang asli.

Menuju lokasi kios dawet telasih yang terkenal dan bukan tiruan bisa lewat pintu samping sebelah utara pasar, masuk sedikit sampai menemukan spanduk bertuliskan Dawet Selasih Bu Darmi. Resep dawet ini merupakan warisan turun-temurun dari almarhum Bu Darmi, yang sekarang sudah dilanjutkan oleh generasi ketiganya. Rasa asli dawet ini berbeda dengan rasa dawet tiruan yang ada di sampingnya, jadi jangan salah masuk ya. 🙂

Dawet Bu Dermi ASLI!
Dawet Bu Dermi ASLI!

Dawet Selasih merupakan campuran cendol berwarna hijau dengan bubur ketan hitam, bubur sumsum, dan biji telasih diberi kuah santan, sedikit air gula dan es batu. Bisa ditambahkan tape ketan hijau apabila suka dengan rasa sedikit asam dari tape. Yang membedakan dawet selasih dengan dawet lainnya di Indonesia adalah kuahnya yang terdiri dari siraman kuah santan encer ditambah kuah santan kental kemudian diberi taburan biji telasih yang terasa licin di mulut.

Selain memiliki banyak gizi dan juga mengenyangkan, rasa segar dari kuah santan membuat rasa capek hilang seketika. Harga satu mangkok dawet hanya 5.000 rupiah, apabila ditambah tape ketan hijau menjadi 6.000 rupiah. ( update 2012 )


Cabuk Rambak Solo
Cabuk Rambak

Satu lagi makanan khas asli Solo yang sudah sedikit langka, si penjual kadang terlihat berjualan di pasar, kadang juga tidak menampakkan diri selama berhari-hari. Sungguh menggantungkan pada keberuntungan untuk berburu makanan ini. Makanan tradisional yang saya maksud adalah Cabuk Rambak. Seiring dengan selera lidah masyarakat yang lebih cinta makanan modern membuat Cabuk Rambak hilang perlahan tergerus oleh zaman.

Apa itu Cabuk Rambak? Cabuk rambak  adalah potongan ketupat yang diiris tipis-tipis disiram dengan sambal yang terbuat dari campuran biji wijen, kemiri, kelapa parut, dan daun jeruk. Penyajiannya diletakkan di lipatan daun pisang ( pincuk ) dan dilengkapi dengan karak, sejenis kerupuk yang terbuat dari beras. Rasa kemiri yang kuat serta harum daun jeruk membuat satu pincuk terasa kurang untuk meresapi rasa cabuk rambak ini, dengan kata lain membuat saya berkata “Lagi, lagi dan lagi…”.

Dimana bisa menemukan makanan tradisional ini? Kalau beruntung bisa ditemui di pinggir Pasar Gede, sekitar Pasar Klewer atau di sekitar komplek SD Marsudirini dan Gereja Antonius Purbayan. Satu pincuk cabuk rambak hanya 2.000 rupiah saja! Sayang sekali bila makanan murah dan enak ini hilang dari kuliner Solo kan?


lenjongan Pasar Gede
lenjongan Pasar Gede

Masih ada space kosong untuk cicip kuliner enak Pasar Gede yang lain? Jangan lewatkan lenjongan yang terdiri dari ragam penganan khas seperti klepon, tiwul, gendar, dan kawan-kawannya yang lapaknya berada di tengah pasar. Masih belum puas kulineran? Mau cicip brambang asem yang terkenal di Solo? Atau malah penasaran dengan rasa kaldu sedap dari babi kuah ( untuk yang makan daging babi ), baca selengkapnya di sini. 😀


Note : Acuan dari artikel ini adalah rasa yang menurut saya masih orisinal dari suatu makanan tradisional, tanpa bermaksud menganggap tidak enak makanan serupa tak sama rasa di lain tempat. Meski banyak tersebar Nasi Liwet di pelosok kota Solo, dawet telasih yang dirasa lebih enak di lain tempat, atau cabuk rambak yang mungkin bisa ditemui di daerah Kratonan, itu semua kembali ke selera lidah masing-masing individu.

Selamat berwisata kuliner di Pasar Gede Solo. 🙂

Advertisements

30 Comments Add yours

  1. pyonkpyonk says:

    wot?? dawet 5.000?? terakhir masih 4.000… TT_TT

    Like

    1. Bulan kemarin udah mulai naik harga. Masih murah harga segitu ketimbang es Nini Towong :p

      Like

  2. eh harga es dawet sudah naik ya?
    bulan kemarin ke sana masih Rp 3.000,00 per gelas 😀
    salam kenal yak 😀

    Like

    1. Harga yang saya tulis update per tanggal 4 Dec. Mungkin harga naik buat persiapan lonjakan wisatwan di akhir tahun kawan 🙂

      Like

  3. ais….jadi laper bacanya…

    Like

    1. hihihi…mumpung masih pagi hari bisa langsung menuju warung terdekat, mare…. 😀

      Like

  4. Cumi MzToro says:

    hmmmmm …. jadi pingin nasi liwet

    Like

    1. Hehehe…ayo ke Solo… 😀

      Like

  5. Aduh itu Nasi liwetnya bikin ngiler malem2 :3

    Like

    1. Wisata kulineran di Solo yuk…hehehe

      Like

    2. Wuih boleh nih kapan2 kl ke oslo lagi …

      Dulu makan timlo solo yg terkenal tuh, di sampingnya pasar ato apa ya kl ga salah 😀

      Like

    3. Di samping pasar ada Timlo Sastro Balong, terkenal dan asli enak khas Solo hehe…

      Like

    4. Iya sepertinya yang itu deh 😀

      Like

  6. arifadlillah says:

    Waah harus ke Solo dulu nih supaya bisa icip-icip kuliner mantap ini 😀

    Like

    1. Monggo ke Solo, kawan 😀

      Like

  7. artikel dan foto-fotonya keren keren boss.. Terimakasih infonya

    Like

    1. Sama-sama… Makasih jg sudah berkunjung di sini 🙂

      Like

  8. Informasinya sangat menarik. Nice info. Thx 🙂

    Like

    1. Terima kasih sudah mampir di blog ini. Semoga informasinya berguna kawan 🙂

      Like

  9. Avant Garde says:

    marakke kemecer 😀

    Like

  10. Penasaran sama Cabuk Rambak..btw penginapan murah di solo dimana yah.yang dkt dg akses wisata. pengen solo trip kesana

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Penginapan murah ada di daerah Keprabon, harga penginapan mulai dari 70ribu-200ribu tergantung fasilitas. Atau di hotel Trio, dekat Pasar Gede yang punya harga sekitar 150ribu per malam 🙂

      Like

  11. andiny says:

    solo merupakan salah satu daerah yang pernah saya singgahi. disana banyak sekali makanan yang sangat enak dan lezat. Wisata kuliner solo sangat menarik untuk segera dicicipi. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Kuliner yang bisa anda kunjungi di Kuliner Indonesia

    Like

  12. waaa pas ke solo nggak sempet wiskul 😦

    Like

    1. Kebanggaan Solo justru kuliner tradisionalnya, bro… Ayolah ke Solo kalo perut udah siap kuliner seharian hehe

      Like

    2. waaa pagi-sampe siang ke tawangmangu, sore-malem wiskul gitu ya mas halim? 😀
      terus balik naik sriwedari terakhir. waaa 😀

      Like

  13. wah dah lama gk nyobain dawet…

    Like

  14. Nasi gudegnya bikin lapar saja.
    Lokasi nasi gudeg paling enak di solo dimana ya mas?

    Like

  15. Lala says:

    cabuk rambak dan dawet selasih sepertinya harus digaungkan lagi.. soalnya saya bahkan belum dengar. kalo ke solo pasti carinya nasi liwet atau srabi dan selat solo :”)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s