Sosis Domba Wutung ( Batas RI – PNG )

Banyak pengalaman menarik saat saya merantau di Jayapura tahun 2009 lalu, salah satunya adalah Desa Wutung. Wutung merupakan sebuah desa di perbatasan Republik Indonesia dan Papua New Guinea ( PNG ) yang menyisakan kenangan indah saat melintasinya. Selain merasa bangga karena itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke luar negeri. Saya juga melihat pemandangan yang berbeda dengan apa yang sering saya lihat di kota Jayapura. Intip luar negeri tanpa visa? Ya cuma disini… 😀

kantor imigrasi PNG
kantor imigrasi PNG
aspal mulus menuju perbatasan

Cerita berawal dari ajakan kak Yani,teman satu kantor di Jayapura yang mengusulkan piknik bareng di hari minggu, dan hasil kesepakatan kak Yani, saya dan dua teman kantor lainnya memutuskan berangkat ke ‘luar negeri’. Dengan mengendarai mobil dinas mas Hasta (suami kak Yani), kami melaju kencang ke arah distrik Muara Tami. Melewati papan petunjuk arah pantai Holtekamp, kami belok kanan mengikuti arah menuju desa Skouw, sebuah desa paling ujung di timur Indonesia. Jalan raya menuju perbatasan betul-betul diluar perkiraan. Di benak pikiran saya, daerah perbatasan itu pasti penuh intrik antar negara sehingga jalan raya dibiarkan rusak atau tanpa aspal begitu saja, ajaibnya jalan raya menuju Skouw ini mulus seperti jalan tol, kawan.

Sekitar dua jam perjalanan dari kota Jayapura, mobil jazz merah kami akhirnya sampai ke Skouw sebuah desa yang menjadi batas dua negara Republik Indonesia dan Papua New Guinea. Kendaraan dari Indonesia hanya boleh masuk sampai di pos jaga tentara di desa Skouw, selanjutnya para pengunjung harus berjalan kaki memasuki batas negara. Bangga banget karena sempat mampir di desa ini, apalagi mengetahui bahwa teman kantor lain yang ngaku lahir di Jayapura aja belum sempat nginjakin kaki disini.

Jantung berdegup kencang saat melewati pos penjagaan tentara Indonesia yang bertugas di perbatasan. Banyak nonton siaran televisi tentang distrik merah bikin parno berlipat ganda saat terlihat tentara berpakaian lengkap siap perang berjalan mondar-mandir di depan mobil sambil bawa senapan berlaras panjang. Tapi tenang saja, mereka hanya cek sesuai prosedur saja, tidak menginterogasi seperti kantor imigrasi antar negara di Asia Tenggara kok.

Saya di luar negri!!!!

Lalu dimanakah Wutung? Wutung merupakan desa batas negara PNG yang bisa ditemui setelah berjalan kaki melewati gerbang bertuliskan “WELCOME TO PAPUA NEW GUINEA” dengan tulisan kecil “Jesus Christ” berwarna merah di bawahnya. Masih di papan yang sama ditemui tulisan “WELKAM LONG PAPUA NIUGINI” “Lord over this Land”. Membaca tulisan selamat datang di sini membuat mata berbinar, membuat hati berdegup kencang ingin rasanya jingkrak-jingkrak dan teriak “Saya udah di luar negeri!!!“. Maaf kumat ndesone :-D.

Skouw - Wutung
Skouw – Wutung

Suasana desa Wutung terlihat lenggang, hanya terlihat beberapa penduduk yang berjalan lalu lalang melintasi batas negara. Beberapa dari mereka terlihat membawa beberapa kotak INDOMIE, minyak goreng dan bahan pokok lain yang akan dibawa masuk ke PNG. Tak jauh beda saat penduduk keluar dari batas negara PNG, mereka membawa kardus snack, kopi instan, beras, gula yang semuanya “Made in PNG” untuk dibawa masuk ke Wutung.

sosis domba

Saat tengah melihat rutinitas penduduk setempat, tiba-tiba indera penciuman sama-samar mencium bau sedap seperti daging panggang. Bau harum itu berada tak jauh dari gerbang perbatasan RI-PNG. Sumber bau itu berasal dari seorang perempuan yang tengah mengoreng sosis berwarna merah yang tidak lain adalah sosis daging domba yang digoreng minyak seadanya diatas lempengan besi.

perbatasan PNG
perbatasan PNG

Di samping terlihat perempuan lain yang membawa beberapa daging domba yang sudah dibungkus rapi dengan kertas koran dan diberi bumbu garam. Harga sosis domba dipatok 15.000 rupiah waktu itu, dan daging dombanya 20.000 rupiah saja. Daging domba mereka beli dari PNG, kemudian diolah dan dijual di Wutung. Kalau dipikir-pikir harga segitu juga tidak terlalu mahal mengingat besarnya biaya hidup di Papua dan perjuangan warga perbatasan ini dalam menyambung hidup. Sungguh sebuah sajian unik di perbatasan negara dan hanya bisa ditemukan di Wutung. 🙂

sosis domba Wutung
sosis domba Wutung

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat dan hujan yang semakin deras membuat kami harus segera meninggalkan Wutung. Melangkah berat melewati gerbang yang saya lewati saat masuk Wutung tadi membuat semakin tidak rela meninggalkan luar negeri secepat ini. “Gudbai Tenkyu Long Kam Lukim Papua Niugini – God Istap Wantaim Yu” atau “GOODBYE-THANK YOU FOR VISITING PAPUA NEW GUINEA-GOD BE WITH YOU” tulisan di gerbang sisi PNG yang semakin dibaca malah membuat langkah kaki semakin berat melangkah masuk ke Desa Skouw. Huftt.

Sungguh kenangan yang tidak mungkin saya lupakan seumur hidup. Bila orang Indonesia merasa bangga jika luar negeri pertama kalinya adalah Singapore atau Kuala Lumpur, saya lebih bangga lagi karena bisa bercerita bahwa pengalaman pertama ke luar negeri saya adalah PNG. 😉
________

Note : Jika hanya sekedar ingin melewati perbatasan RI-PNG kita hanya perlu melapor di kantor tentara perbatasan RI terlebih dahulu dan meninggalkan KTP di sana. Bila mau berlibur ke negara PNG bisa langsung lapor ke kantor imigrasi di Wutung dan jangan lupa menunjukkan paspor yang sudah ditempel visa Papua New Guinea. Visa PNG bisa diproses terlebih dahulu di kantor kedutaan PNG yang terletak di daerah Entrop, Jayapura.

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. negara jiran yang amat jarang disebut dan terasa jauh. saya bisa rasakan sensasi itu 🙂

    Like

    1. Iya, kawan…kadang orang melupakan sisi timur Indonesia, malah lebih memilih sisi lain yang terlihat lebih murah biayanya 🙂

      Like

    2. people think rationally. tak bisa disalahkan juga ya. kalau ada semacam biaya murah bahkan gratis, kenapa tidak? faktor ketertarikan dan promosi akan tempat itu juga berpengaruh 🙂 di samping tentu, faktor keingintahuan orang-orang 😀

      Like

    3. Setuju kawan 🙂

      Like

  2. rio praditia says:

    hhmmm PNG.. tetangga yang terlupakan… selama ini perhatian kita selalu teralihkan ke malaysia.. sepertinya eksotis sekali ya tempat itu

    Like

    1. Perbatasan di Wutung udah nunjukin kalo PNG lebih maju dari negara Asia Tenggara lainnya, jadi alam mereka pun mungkin lebih tertata rapi dan indah lagi 🙂

      Like

  3. buzzerbeezz says:

    Ini nih pengalaman yang gak didapat oleh banyak orang. Seru mas!

    Like

    1. Hehe…makasih kawan 🙂

      Like

  4. @andreyongz says:

    sumprit ya, ngeliat baca dan liat foto sosis itu langsung kecium gimana aromanya dan mendadak laparrrr… XD

    Like

    1. Berarti artikel yang saya tulis berhasil jadi “racun” ya? Horee… *jingkrak-jingkrak* 😉

      Like

  5. cumi says:

    sosis nya juara banget, btw pingin banget bis amerasakan suasana perbatasan begitu

    Like

    1. Perbatasan memang memberikan warna tersendiri yg kesannya “luar negeri” 🙂
      Masih ada perbatasan lain seperti Kalimantan dgn Serawak, Atambua dgn Timor loh…hehe

      Like

  6. pengalaman luar negeri yang luar biasa sekali, patut berbangga diri karena commonly traveler luar negerinya ke negara tetangga sebelah sperti malaysia dan singapore:). unforgettable moment

    Like

    1. Thanks kawan 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s