Old Town George Town – PENANG part 2

Kota George Town identik dengan kota tuanya Penang. Seperti halnya di Indonesia saat kita berkunjung di kota tua Jakarta ataupun kawasan kota tua di kota Semarang. Bedanya di Indonesia kawasan kota tua tidak terlihat aktif, terlihat banyak bangunan tua yang terbengkalai dan tidak terawat. Sedangkan di George Town lain ceritanya, semua bangunan tua disini terlihat hidup, hampir semua bangunan dirawat dan digunakan sebagai tempat tinggal, tempat bisnis maupun hanya sebagai museum. Saat berlibur di Pulau Penang seolah-olah saya dibawa melihat aktifitas warga yang seakan tidak berubah seiring perkembangan jaman. Maka jangan heran apabila UNESCO menobatkan kota George Town ini sebagai salah satu World Heritage City.

Old Town Georgetown
Old Town Georgetown

Setiap kaki melangkah di lebuh lebuh George Town tangan terasa gatal untuk segera mungkin memencet tombol kamera. Arsitektur bangunan tua di sini terlihat unik, tidak terlihat monoton. Saat melangkah di kawasan Lebuh Chulia terlihat banyak bangunan yang identik dengan Chinatown, termasuk saat menerobos masuk Lorong di kawasan Love Lane. Lain halnya saat melangkah diantara Lebuh King dan Lebuh Queen terlihat banyak kuil bersembahyang Hindu yang menandakan disana banyak bermukim etnis India. Atau mau melangkah di Lebuh Buckingham dimana terdapat masjid tua dan terkenal di Penang, yaitu Masjid Kapitan Keling.
Masih bertanya-tanya apa arti kata ‘Lebuh’ ? Lebuh berarti jalan, sedangkan arti kata ‘Lorong’ adalah gang.

Lebuh Chulia memiliki banyak hostel murah di sepanjang jalan, selain letaknya yang strategis diantara objek wisata, tempat ini juga surga kuliner di malam hari seperti yang saya ceritakan di Wisata Malam Lebuh Chulia. Pagi hari kawasan tersebut digunakan untuk kawasan bisnis, sehingga tenda-tenda yang saya lihat di malam hari sudah tidak terlihat wujudnya lagi termasuk sampah-sampah pengunjung yang berserakan. Betul-betul salut dengan kesadaran arti kebersihan yang dijaga oleh penduduk setempat.

pasar Lebuh Chulia
pasar Lebuh Chulia
sepeda motor modifikasi
sepeda motor modifikasi
buah plum
buah plum

Tidak jauh dari Love Lane tempat saya menginap, terdapat sebuah pasar tradisional di Lorong Pasar yang banyak dijual jenis buah-buahan dan sayuran segar yang jarang saya temui di pasar tradisional Indonesia, salah satunya buah plum. Di Indonesia buah Plum hanya dijual di supermarket dengan harga selangit, sedangkan disini buah berwarna merah segar itu dihargai sangat murah sampai-sampai saya membeli satu kantong plastik penuh buah Plum :).

Objek lain yang saya kunjungi di kota George Town adalah sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari Lorong Pasar. Nama masjid itu adalah Masjid Kapitan Keling. Masjid megah yang didirikan di tahun 1801 ini awal mulanya dibangun untuk etnis India yang beragama muslim. Artitektur bangunannya mengingatkan saya akan gambar Masjid Baiturrahman yang sering saya lihat di majalah.

George Town juga memiliki Little India seperti kota Singapura. Little India tersebut terletak diantara Lebuh King dan Lebuh Queen. Siang sampai malam hari kawasan ini digunakan sebagai tempat bisnis yang banyak menjual kain-kain, emas dan perhiasan lain sampai kelengkapan untuk bersembahyang seperti lilin, dupa ataupun sesaji. Banyak kuil tersebar di sepanjang jalan, tapi ada satu bangunan kuil yang mencolok mata. Bangunan tersebut bernama kuil Sri Mahamariamman.

kuil Sri Mahamariamman
kuil Sri Mahamariamman
lampion di Khoo Kongsi
lampion di Khoo Kongsi

Tidak dipungkiri kota George Town ini memiliki beragam budaya dan kepercayaan beragama yang beragam. Banyak pula bangunan tua ataupun tempat bersembahyang yang difungsikan sebagai tempat wisata, salah satunya adalah Khoo Kongsi. Dengan membayar 10 RM untuk tiket masuk, saya bisa melihat arsitektur bangunan Khoo Kongsi yang sangat indah. Awal mulanya bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk menghormati leluhur klan Khoo yang sudah meninggal. Seiiring dengan waktu bangunan milik klan (suku) Khoo yang mengalami beberapa kali renovasi ini difungsikan sebagai museum. Di dalam bangunan yang megah ini terdapat perabot rumah yang memang sengaja dipertunjukkan, penataan ruang yang sebagian dibuat seperti jaman dahulu kala, serta tempat sembahyang leluhur Khoo yang dipenuhi ukiran di altar mejanya. The Heritage Jewel of Penang itu yang saya baca di brosur Khoo Kongsi, tanda tempat ini mengukuhkan sebagai salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi di George Town.

to be continued…

masjid Kapitan Keling
masjid Kapitan Keling
Khoo KongSi
Khoo KongSi
ornamen di dalam Khoo KongSi
ornamen di dalam Khoo KongSi
Khoo Kongsi
Khoo Kongsi
salah satu klenteng di gang
salah satu klenteng di gang
Advertisements

6 Comments Add yours

  1. DebbZ says:

    bagus old town-nya!….banyak yang bilang kalo makanan di Penang enak2 ya? Pengen wisata kuliner ke Penang dech 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Enak banget + tidak bikin eneg…Dan menurutku makanan paling enak se-Asia Tenggara hanyalah ada di Penang 😀

      Like

  2. Lidya says:

    Banyak kuliner yg oke dicobain di little india, salahduanya teh halia dan gorengan khas india (sambosa, onion ball, dll). Nyaamm jd kangen Penang 😦

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Kuliner Penang nggak eneg kaya di Kuala Lumpur, kuliner peranakan yang nggak beda jauj dengan kuliner di Indonesia 🙂

      Like

  3. Bali Tour says:

    Terima Kasih atas informasinya 🙂

    Like

  4. fuk says:

    penang mantaaaaaaappppp kulinernya, orangnya ramah ramah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s