Preman vs Jeruk – RUTENG (part 1)

Malam hari sepulang dari tur keliling pulau, bapak berperawakan gemuk bernama Om Beni menawarkan tempat tinggal gratis bila saya mau ikut dengan dia ke Ruteng. Wah, siapa yang tidak mau dapat tumpangan gratis, apalagi buat saya yang low budget travelling langsung mengiyakan ajakan tersebut. Om Beni ini merupakan salah seorang tamu long stay di losmen Diaz ( baca: nge-kost ) yang sudah terkenal ‘sok gaul’ di kalangan tamu Losmen Diaz.

Cerita berawal dari minggu pagi saat saya pulang dari gereja di Pantai Binongko bersama dengan pemilik Losmen, Pak Nur. Setelah menunggu om Beni yang juga ke gereja, saya segera duduk di bangku belakang sepeda motor RX King milik om berperawakan gemuk ini. Pukul 10.30 kami melaju kencang keluar dari losmen dan berhenti di sebuah pom bensin. Tiba-tiba om Beni meminta saya uang bensin untuk mengisi penuh tangki kosong RX King. Loh kok saya yang isi bensin? Awalnya saya pikir ya sudah lah itung-itung ongkos perjalanan ke Ruteng. Segera saya sodorkan selembar 100 ribu ke dia. Meteran berhenti sampai angka 60 ribu, dan anehnya uang kembalian 40 ribu tidak kembali ke tangan saya. Jujur saja saat itu perasaan campur aduk antara mau minta kembalian dan rasa sungkan dengan orang lebih tua. Saya lupakan perlahan rasa sungkan itu dengan melihat pemandangan yang ternyata terlewat banyak oleh mata gara-gara pikiran bingung tadi. Pemandangan gunung di jalur Labuan-Ruteng sangatlah indah sekali. Jalan pegunungan dihiasi oleh bukit-bukit berselimutkan pohon hijau di kanan kiri jalan raya, sesekali terlihat bunga liar yang tumbuh di tepi jalan dan burung-burung berterbangan.

hamparan bukit hijau menuju Ruteng
hamparan bukit hijau menuju Ruteng
sakura??
sakura??

Udara yang sejuk membuat saya sedikit lupa akan kejadian pom bensin dan membuat sedikit ngantuk #ehh. Perjalanan tak terasa sudah dua jam berlalu, dan om Beni berhenti sebentar di salah satu rumah penduduk setelah meminta ijin ke saya terlebih dahulu. Apa yang dilakukan di rumah penduduk desa ini ya? Rasa penasaran membuat saya mengintip dari jauh dan terlihat bapak-bapak tua memberikan segepok uang ke om Beni dan mereka saling berjabat tangan. Saat mereka keluar dari pintu, saya bergegas lari ke arah RX King. Perjalanan kami lanjutkan kembali, dan om Beni minta ijin berhenti lagi di rumah kedua. Tak disangka dia melihat saya mengintip di rumah tadi, maka kali ini dia mengajak saya untuk ikut masuk ke rumah kedua. Hal yang sama dilakukan oleh pemilik rumah seperti yang saya intip di rumah pertama, pemilik rumah menyerahkan segepok uang ke tangan om Beni. Makin penasaran mereka melakukan transaksi apa sih? Saat kami berhenti makan di salah satu warung di desa Lembor, tiba-tiba dia menyeletuk cerita tentang pekerjaannya sebagai pemberi kredit bagi penduduk desa alias rentenir atau lintah darat. Tapi jawaban rasa penasaran ini tidak setimpal dengan yang saya bayangkan. Lagi-lagi saya ditodong pembayaran makanan yang kami makan sebesar 50 ribu. Wah kalau dibiarkan terus tidak beres ini, batin saya…

jeruk Ruteng
jeruk Ruteng

Berkendara sebentar dari warung makan, saya melihat banyak sekali orang berhamburan di jalan raya sambil membawa keranjang berisi buah jeruk. Rupanya mereka penjual buah jeruk yang sedari tadi menunggu pengendara lewat di jalan raya ini. Jeruk yang mereka tawarkan beragam harga, pintar-pintar menawar saja. Jeruk yang ditawarkan sungguh mengoda hati untuk membeli, yang dari bentuknya saja terlihat beda dengan jeruk yang ada di Jawa, sungguh disayangkan kalau tidak mencicipi jeruk Ruteng ini. Jeruk disini lebih besar dan bulat, kandungan airnya pun lebih banyak. Sungguh sensasi unik saat berhenti sejenak di jalan dan memakan jeruk hasil panen penduduk lokal, fresh dari pohon judulnya. Yang unik lagi lebih banyak anak-anak kecil yang terlihat membawa keranjang jeruk, sedangkan para ibu-ibu malah duduk santai dan berteduh di kios sederhana yang terbuat dari bambu. Entah karena untuk mencari simpati atau memang kewajiban seorang anak, yang jelas mereka menjadi objek menarik yang bisa saya foto selain pemandangan indah sepanjang perjalanan tadi.

Welcome to “Negeri di atas Awan”
Welcome to “Negeri di atas Awan”
Ave Maria
Ave Maria

Tak terasa pukul 15.30 kami sudah memasuki gerbang selamat datang Ruteng, dan mendapati udara yang berubah menjadi sangat dingin di sore hari. Ruteng merupakan kota di dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan. Selain cuaca yang dingin, Ruteng juga terkenal akan banyaknya gereja-gereja Katolik yang tersebar di seluruh kota. Banyak ditemui tempat tinggal para biarawan dan biarawati di sepanjang jalan menuju kota. Selain itu juga terdapat gereja besar dan megah seperti misalnya Gereja Katedral Ruteng dimana terdapat makam para Uskup Manggarai, termasuk makam Uskup Ruteng pertama yaitu Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD. Penyebaran agama Katolik di kota ini dipicu semenjak jaman penjajahan bangsa Portugis, sejak itu banyak misionaris menyebarkan agama Katolik di Flores terutama kota Ruteng. Tidak heran misionaris asing jaman dulu menyukai tempat ini, karena kebanyakan bangsa barat jaman dulu suka tinggal di tempat berudara dingin dari pegunungan yang seakan-akan seperti di negara mereka sendiri. Mana ada bangunan rumah kolonial dibangun di pinggir pantai. Tidak ada kan?
Jika di Jawa banyak ditemukan masjid kecil atau mushola di kantor kelurahan atau mungkin gedung perkantoran, sama juga halnya di Ruteng yang membangun gereja atau kapel di samping kantor-kantor pemerintah sampai sekolah-sekolah. Karena banyaknya gereja tersebar di kota Ruteng, maka kota ini sering disebut dengan istilah “Kota dengan Seribu Gereja”.

Setelah selesai berkeliling gereja di kota, saya kembali ke rumah dan disambut oleh istri om Beni dan anak sulung perempuan mereka. Malam hari udara menjadi sangat dingin dan kabut turun menyelimuti rumah-rumah, sehingga tidak salah bila Ruteng juga mendapat julukan “Negeri di Atas Awan”.

Saya pikir kejadian pagi hari saat si om menodong saya uang sudah berakhir, ternyata masih belum selesai cerita keapesan saya. Malam harinya saya kembali diminta uang dengan alasan untuk mengisi bensin yang katanya sudah kosong saat tiba di Ruteng. Saat itu saya langsung menolak, langsung saya katakan sudah tidak ada uang lagi karena saya masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa. Tidak lucu bila saya menghamburkan uang untuk hal tidak jelas sampai saya tidak punya uang untuk pulang kan? Selesai dengan penolakan, om ini mulai menunjukkan gelagat aneh, mengancam saya bahwa besok tidak bisa mengantar saya jalan-jalan lagi dan dia akan pulang ke Labuan Bajo dua hari lagi. Hah? Jadi saya harus extend di Ruteng selama 3 malam atau pulang sendiri kalau tidak mau memberi dia uang. Rasa-rasanya saya salah memilih teman, ini sih namanya masuk ke sarang preman. Apa daya nasib sudah terlanjur masuk ke lubang buaya…

to be continued…

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Adhitya Pratama says:

    Hahah..koplak..

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Katanya kan pengalaman adalah Guru Terbaik, jadi inilah pelajaran yang menyebalkan tapi berkesan di hati hehehehe…. Must try :p

      Like

    2. Adhitya Pratama says:

      bener2 bro..hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s