Pantai Pede

Masih ingat dengan orang baik hati yang menawarkan saya ikut dengan rombongannya menuju ke pantai saat di Batu Cermin? Rombongan yang terdiri dari seorang Om setengah tua, seorang kakak cantik yang ternyata salah satu pegawai di tokonya dan seorang biarawati. Biarawati ini merupakan teman baik dari si kakak yang kebetulan mudik di Flores setelah tugas pengabdiannya di Kupang bisa ditinggal.

Mereka berasal dari Ruteng, sebuah kota yang berjarak kurang lebih 130 km dari Labuan Bajo. Tidak banyak cerita yang saya dapatkan dari mereka, ntar kalo korek banyak informasi disangka berpikiran negatif malah repot kan? Hehe. Hanya sempat mendengar sedikit cerita dari si kakak, bahwa Om baik hati tersebut adalah seorang tuan tanah sebuah perkebunan rempah-rempah di Ruteng. Tidak menyangka sama sekali, karena penampilan si Om terlihat biasa dengan memakai baju selayaknya tanpa menunjukkan kesan bahwa dia seorang boss.

om baik hati
om baik hati

Setelah perjalanan menuruni bukit, mobil L300 membawa kami melewati sebuah garis pantai yang sepi sekali. Tidak banyak terlihat wisatawan asing yang berjemur atau bermain air di sepanjang pantai. Berlawanan sekali dengan kondisi pusat kota Labuan yang kecil tapi selalu ramai oleh turis asing, bahkan jalan serasa seperti bukan di Indonesia saking tidak pernahnya saya melihat turis lokal.

Sebelum berhenti di pantai, kami menyusuri jalan setapak yang masih belum di aspal, hanya berupa susunan batu kapur saja. Di samping kiri terlihat papan nama sebuah resort Komodo Eco Lodge yang notabene milik investor asing. Tidak hanya sebuah resort saja, masih terlihat papan nama Puri Sari Resort yang juga milik investor asing dan beberapa deret tanah kosong yang sepertinya akan dibangun sebuah resort juga.

view Pantai Pede
view Pantai Pede

Sungguh ironis bila menyadari bahwa sepanjang garis pantai dikuasai oleh pembangunan resort milik investor asing. Kami yang merasa sudah cukup melihat situasi di ujung garis pantai, memutar balik kendaraan dan menuju ke pantai yang masih digunakan penduduk lokal sebagai tempat wisata umum, yaitu Pantai Pede. Nama pantai ini bukan PEDE yang diambil dari singkatan kata Percaya Diri, tapi membacanya menggunakan aksen Indonesia Timur sedikit. Pe (diambil dari bunyi pe-das) dan De (diambil dari kata ge-de), tidak susah kan? 🙂

pasir putih Pantai Pede
pasir putih Pantai Pede
kakak cantik dan biarawati
kakak cantik dan biarawati

Pantai Pede ini berpasir putih, air lautnya terlihat jernih ditambah banyak pepohonan rindang membuat suasana pantai jadi lebih adem. Tapi sayang sekali kesan pantai yang berjarak 2 km dari kota ini berkurang nilai indahnya karena buruknya pengelolaan tempat wisatanya. Keburukan itu terlihat dari pondok untuk berteduh sudah tidak layak pakai lagi, cetakan bangku yang sudah retak dan sebagian hancur, atap pondok juga banyak yang sudah roboh.

Saat menikmati pemandangan pantai, tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh Om baik hati, dia menyodorkan buah yang sekilas seperti buah talok di Jawa. Saya langsung tanpa ragu mengigitnya tanpa menanyakan nama buah tersebut. Ternyata rasanya agak masam seperti jeruk. Jujur saya salut dengan kebaikan Om ini dari awal pertemuan yang menganggap saya seperti anak sendiri, yang tidak pernah saya rasakan dari ayah saya sendiri. Kok tiba-tiba curhat? Balik ke cerita ya…

Kami menikmati suasana pantai dengan cara sendiri, si Om sibuk mengumpulkan buah yang masih bersih di bawah pohon, si kakak dan biarawati sibuk mengobrol, sementara saya sibuk mengambil foto dan bermain pasir di tepi pantai. Rasanya enggan sekali meninggalkan tempat yang tenang ini, rasanya ingin sekali memasang hammock dan tidur siang di sana.

Posisi matahari semakin tinggi dan semakin terik, sehingga kami memutuskan untuk keluar dari pantai. Perjalanan kami lanjutkan memasuki kota, dan saya yang hendak berpamitan untuk turun di jalan ditolak oleh si Om, dia langsung membawa kami makan siang di sebuah rumah makan. Betul-betul salut atas kebaikan mereka.

Setelah menerima rejeki makan siang gratis kembali saya berpamitan kepada mereka semua dan berharap ketemu lagi untuk membalas kebaikan mereka. Tanpa saya sadari saya lupa menanyakan alamat atau nomor telpon si kakak ataupun Om baik hati di Ruteng. Kelak saya sedikit menyesal tidak memiliki alamat mereka di Ruteng.

Merasa belum puas dengan penelusuran Pantai Pede di siang hari, sore hari saya berjalan sejauh 2 km dari losmen menuju pantai dan menyaksikan sunset yang tidak akan saya lupakan beserta kenangan akan kebaikan om baik hati, kakak cantik, dan kakak biarawati bijak.

to be continued…
________

Note: Pemandangan ironis tentang resort yang saya lihat saat 2009 ini ternyata juga dibahas oleh KOMPAS.com dengan artikelnya di tahun 2011 dengan judul Pantai Pede di Tengah Gempuran Investasi (silakan di-klik).

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. pantainya bagus!! ada dimana pantai ini? pengen sekali kali mengunjungi 🙂

    Like

  2. Halim Santoso says:

    Pantai ini terletak di Labuan Bajo :). jadi tidak cuma ada Komodo saja di Labuan bajo, tapi masih ada banyak tempat indah yang wajib dikunjungi termasuk pantai Pede ini salah satunya. Masih ada juga Batu Cermin cave yang keren 🙂

    Like

  3. vhee says:

    Mari berpartisipasi dalam acara pemuatan petisi bersama guna menolak pembangunan hotel di area Pantai Pede oleh investor :

    PEDE UNTUK RAKYAT BUKAN UNTUK KONGLONGMERAT

    Waktu : Sepanjang hari minggu, 30 Sept 2012
    Tempat : Pantai Pede
    Diisi Band accounsic..

    Like

  4. johanesjonaz says:

    haiya… Labuan Bajooooo #kangen

    Like

    1. aku juga kangen ama Labuan Bajoooo…. huaaa…. #nangis

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s