Selamat Datang di Negeri FLOBAMORA

Selesai perjalanan dari GOWA, saya bergegas menuju ke hotel Semeru untuk segera check out. Total 4 malam sudah cukup bagi saya menjelajahi kota Makassar. Seusai membayar total biaya penginapan, saya segera naik becak menuju pelabuhan. Niat awal ingin berjalan kaki menuju pelabuhan yang hanya berjarak 500 meter dari hotel, tapi apa daya tas backpack yang makin berat gara-gara penuh barang titipan… Beginilah nasib traveler amatir yang masih belum tega melihat teman menunggu oleh-oleh.

pemandangan pulau di sekitar Makassar
pemandangan pulau di sekitar Makassar

Pelabuhan Makassar terlihat semerawut di siang hari, antara penumpang yang akan berangkat ke penjuru pelabuhan Nusantara dan yang turun dari kapal terlihat berjejal memenuhi pintu keluar masuk pelabuhan. Loket terletak tidak jauh dari pintu masuk pelabuhan, segera saja saya membeli tiket kapal menuju Labuan Bajo. Dengan harga tiket ekonomi 170.000 rupiah, KM Tilongkobila akan membawa saya mengarungi Laut Flores menuju Labuan Bajo. Kapal PELNI ini seperti sebelumnya, muatan orang di dalam kapal terisi lebih banyak dari kapasitas ruang kosong yang tersedia. Jadi setelah sampai di atas kapal, kembali melihat orang saling berebut tempat duduk kosong.

Belajar dari pengalaman Ketemu Calo di KM Sinabung, saya memutuskan banyak ngalah saja di KM Tilongkobila ini. Setelah mengelilingi kapal yang bertingkat dua ini, akhirnya saya menemukan tempat terbuka lantai satu di bawah anak tangga. Tempat terbuka ini berada di luar badan kapal, artinya saya harus bermalam di geladak kapal yang dingin. KM Tilongkobila berangkat tepat pukul 14.00 seperti tertulis di tiketnya. Setelah beberapa menit meninggalkan pelabuhan Makassar, terlihat pemandangan pulau-pulau kecil di sekitar Makassar. Tidak hanya pulau saja, banyak terlihat ikan terbang yang loncat kegirangan di atas air laut. Dan menjelang sore hari terlihat sunset yang tidak kalah menariknya dari yang saya lihat di Pantai Losari.

Kapal ini memiliki beberapa bilik untuk mandi dan kantin yang menyediakan nasi bungkus. Tapi lagi-lagi melihat bilik mandi yang sudah layak digunakan membuat saya urungkan niat untuk mandi sore, yang penting tidak ada yang tahu saya belum mandi ( kecuali yang baca ). 😉

Sementara di kantin kapal terdapat nasi bungkus dengan isi nasi dan ayam goreng Kentucky KW dijual seharga 15.000 ataupun makanan jenis lainnya seperti POP MIE. Lumayan untuk menghilangkan rasa lapar di malam hari yang dingin. Penuhnya kapasitas yang melebihi ruang kosong membuat banyak orang berdesakan duduk di luar kapal. Hampir tidak ada jalan untuk dilewati saat menuju ke toilet. Untung tidak sampai kebelet sekali, jadi tidak sampai ngompol di celana,hehe. Ternyata tidak sedikit yang duduk di geladak luar kapal seperti saya, ratusan penumpang mengalami nasib yang sama.

Malam yang menjadi semakin dingin akibat hembusan angin dari laut membuat banyak terlihat penumpang yang tidur berpelukan untuk mengurangi rasa dingin ( baca : yang belum berpasangan jangan iri hati ) ataupun berselimutkan beberapa lapis sarung, jaket dan kardus! Hembusan angin laut malam itu sangat menusuk tulang, membuat saya sendiri susah tidur semalaman. Beberapa teguk air hangat yang masih tersisa di termos lumayan membuat badan hangat. Setelah badan terasa hangat, kepala saya menengadah ke atas langit dan terlihatlah langit yang sangat sangat cerah. Di balik kesengsaraan udara dingin yang menusuk, saya bisa merasakan tidur di bawah langit berselimutkan bintang pertama kalinya. Mata mulai terpejam perlahan-lahan dengan nina bobo kerlap-kerlip bintang di langit. “Bintang di langit, Kerlip engkau di sana, Memberi cahayanya di setiap insan, Malam yang dingin, Kuharap engkau datang, Memberi kerinduan di sela mimpi – mimpinya….” (AIR – Bintang)

sunrise di Flores
sunrise di Flores
KM Tilongkobila pagi hari
KM Tilongkobila pagi hari

Pukul enam pagi hari banyak penumpang yang sudah merapikan barang-barang bawaannya. Beberapa ada yang sudah mandi di bilik mandi yang kotor, makan POP MIE dengan nikmatnya, ada juga yang sudah menyeruput kopi seperti saya. Perjalanan mengarungi lautan selama 17 jam diakhiri dengan pemandangan indah sunrise dari KM Tilongkobila. Terlihat pulau kecil yang dari kejauhan terlihat seperti bukit gundul dengan bentuk bergelombang alami.

Pulau apa itu? Setelah matahari mulai mengintip sedikit dari sebelah timur, mulailah terlihat gambaran bukit-bukit di pulau yang sering saya lihat di iklan tentang Pulau Komodo. Yipiii… Saya sudah sampai di Negeri FLOBAMORA…. Saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, mulai terlihat jajaran kapal yang berhenti di sekitar pelabuhan Labuan Bajo. Rasanya seperti mimpi indah melihat pemandangan pagi hari ini. Selamat datang di Flores!

to be continued….

welcome to Labuan Bajo!
welcome to Labuan Bajo!
Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Andi Oentoro says:

    One day man…yea..one day i’ll be there…;)

    Like

  2. Halim Santoso says:

    Must see before u die, friend and….must see before it become a very dirty place :-p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s