Fort Rotterdam

Setibanya KM Sinabung di pelabuhan Makassar, saya langsung meletakkan tas backpack di Losmen Semeru. Penginapan yang terletak di Jl.Jampea ini hanya seharga 70ribu permalam yang memiliki fasilitas AC dan kamar mandi di dalamnya. Murahkan? Kamarnya juga bersih dan banyak turis asing yang menginap disini, karena penginapan ini merupakan rekomendasi Lonely Planet (lagi).

Biasanya tujuan utama saya saat tiba di suatu kota mencari candi dan pantai, tapi di Makassar ini sedikit berbeda. Saya penasaran sekali dengan salah satu benteng tua yang terletak di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini. Nama benteng tersebut adalah Benteng Ujung Pandang atau lebih dikenal dengan nama Fort Rotterdam.

Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin
Benteng Ujung Pandang
Benteng Ujung Pandang

Fort Rotterdam terletak tidak jauh dengan tempat saya menginap, bisa naik becak seharga 10ribu atau berjalan kaki sejauh 2 km untuk mencapai tempat ini. Untuk masuk ke Fort Rotterdam saya hanya mengisi buku tamu saja, selebihnya biaya retribusi bersifat sukarela saat itu. Dari luar, benteng ini tidak terlihat megah, di halaman depan pengunjung disambut oleh patung Sultan Hasanuddin sedang mengendarai kuda, tetapi setelah melihat pintu gerbangnya yang kokoh dan kuat serta beberapa bangunan besar beratapkan genteng warna merah, saya hanya bisa berdecak kagum.

design 'Penyu' ( source : unknown )
design ‘Penyu’
(source:unknown)

Benteng ini dibangun pertama kali dengan nama Benteng Ujung Pandang pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9. Pada tahun 1667, benteng ini direbut Belanda melalui perjanjian Bongaya dan kemudian diganti nama menjadi Fort Rotterdam sebagai penghargaan untuk Cornelis Speelman, Laksamana Belanda kelahiran Rotterdam. Bentuk benteng ini menyerupai bentuk seekor penyu yang seakan-akan sedang berjalan merayap menuju laut.

Penyu sendiri merupakan simbol dari bentuk kekuasaan kerajaan Gowa, bahkan rakyat Gowa menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Pannyuwa. Dengan bentuk penyu tersebut, benteng ini memiliki lima sudut yang masing-masing memiliki nama Bastion Amboina, Bastion Buton, Bastion Bone, Bastion Bacan dan Bastion Somba Opu yang salah satu nya menjadi saksi bisu wafatnya pahlawan nasional Pangeran Diponegoro pada tahun 1855.

Museum La Galigo
Museum La Galigo
'Gereja' di tengah benteng
‘Gereja’ di tengah benteng
Fort Rotterdam
Fort Rotterdam

Begitu kaki menginjakkan halaman di dalam benteng, mata pertama kali tertuju ke arah bangunan tinggi bertingkat dua yang terletak di tengah-tengah halaman. Bangunan tersebut ternyata bekas gereja saat benteng ini diduduki oleh Belanda, dan sekarang berubah fungsi sebagai perpustakaan buku kuno. Masih ada bangunan memanjang bertingkat dua di sisi kiri benteng yang sekarang difungsikan sebagai museum.

Lain dengan kebijakan masuk benteng ini yang biaya retribusinya bersifat sukarela, untuk masuk Museum La Galigo diwajibkan membayar biaya retribusi sebesar 3ribu. Uniknya setelah membayar biaya tersebut, saya diberikan tiket berupa tanda terima dari dinas pendapatan daerah berukuran 5R yang memiliki lima lembar sobekan. Tertulis di tanda terima, Lembar I warna PUTIH(Asli)untuk wajib retribusi, Lembar II warna KUNING untuk Dipenda Prov.Sulsel, Lembar III warna MERAH untuk Bendahara Penerima SKPD ybs, Lembar IV warna BIRU untuk Petugas Pemungut Retribusi, terakhir Lembar V warna HIJAU untuk Kasda Prov SulSel. Dengan cetakan di atas kertas tebal, ‘nota tidak jelas’ tersebut apa tidak bikin rugi Pemda ya? Atau proyek korupsi semata? Entahlah.

Thanksgiving :-)
Thanksgiving 🙂

Beralih dari melihat kekonyolan sebuah tanda terima, saya lanjutkan masuk menuju museum. Isi Museum La Galigo patut diacungi jempol. Selain kondisi yang masih terawat, banyak benda-benda yang dengan jelas mengambarkan sejarah kehidupan masyarakat Gowa serta masa-masa kejayaan kerajaaan Gowa. Replika kapal phinisi, peralatan bertani, artefak suku Toraja, baju daerah Sulawesi Selatan, replika miniatur benteng Fort Rotterdam, sampai perhitungan hari untuk bertani, semuanya ada di Museum La Galigo ini.

Sungguh kunjungan yang cukup memuaskan. Sekaligus kunjungan benteng pertama saya di Indonesia. 🙂

Advertisements

18 Comments Add yours

  1. kazwini13 says:

    Asiikkk ada referensi ttg makasar nih.
    banyak pertanyaan nih, hehee
    1. Dari pelabuhan ke Losmen semeru pakai kendaraan apa? jauh ga?
    2. Punya CP losmen semeru ga?
    heheee

    Like

    1. Siap menjawab pertanyaan Kaz 😉
      1. Jarak pelabuhan ke Jalan Jampea nggak terlalu jauh sebenernya…tp kalo merasa awam en nggak punya GPS yahud di hp mending naik becak aja, 10rb-an
      2. No telp Semeru bisa dicoba 0411-318113 ( smoga masih berlaku hehe)
      Kalo kurang cocok dengan kamar di Semeru bisa mlipir dikit ke losmen di deket sana, banyak pilihan di deket pusat kotanya.
      Jalan Jampea merupakan chinatown-nya Makassar, lokasi juga deket kemana-mana terutama ke pelabuhan.

      Like

    2. kazwini13 says:

      oke deh lebih baik naik beca aja kali ya, atau ada angkot gitu, mau aku carter satu angkot aja heheee
      di pelabuhan juga mungkin banyak yg buat dimintai info penginapan, emang tdnya jg mw ke semeru aja udah nyari info juga, murah heheehee :p

      nah kl dr jampea ke bandara pake apa ya kira2?

      Like

    3. Airport Hasanuddin jauh loh…mau ke arah Maros…taxi bisa seratus ribu lebih hehe… Keluar dari komplek Jampea dulu, jalan ke Makassar Mall. Trus cari Damri/pete-pete(angkot) ke arah Bandara. Atau kalo waktu mepet bisa cari taxi di Makassar Mall aja.

      Like

    4. kazwini13 says:

      kebetulan pesawatnya malam jd santai,
      sewa pete2 aja deh, soalnya aku bertiga dan bawa koper hahahaaa

      oia makasar mall dr jampea jauh ga?

      Like

    5. MTC ( Makassar Trade Center ) nggak jauh dari Jampea…dulu aku keluyuran di mall malam hari setelah pagi-siang jelajah di beberapa tempat hehe…
      Oh ya..wajib ke Bantimurung.. wajib banget…
      dan aku baru akan tulis yang Bantimurung setelah kelupaan sekian tahun hehehe

      Like

    6. kazwini13 says:

      okeee siaaaaap…
      kayanya referensi yg ditulis di blog bakalan aku kunjungi,
      lumayan lama juga d makasar dr tgl 26 – 29 nih..

      Like

    7. jujur kurang lama itu…hehehe…
      Cuma 4 hari sama dengan melewatkan Tana Toraja yang spektakuler… Yuk extend yukkk 😉

      Like

    8. kazwini13 says:

      atau ke toraja aja gitu ya??
      hahaaaa
      gbs extend 😦
      berangkat tgl 25 dr Buton nyampe 26 di makasar dan pesawt udh booking tgl 29 malem 😦

      Like

    9. Wahh susah juga ya kalo udah pegang tiket 😦
      Saran biar enak kalo kepingin banget ke Toraja, tinggal di Makassar satu malam aja, terus Toraja-nya 2 malam, pulang dari Toraja bisa naik bus turun bandara langsung tanpa ke kota Makassar lagi.
      Selamat mengatur schedule… Fighting Kaz 🙂

      Like

    10. kazwini13 says:

      makanya.. susah nih,
      nah masalahnya lagi, aku kan bawa2 koper dan backpack, waduh ribet deh kebayang ke toraja bawa koper 😦

      iyaaa makasih banyak loh infonya, sangat membantu 😀

      Like

  2. Bagusss! Harus kesini nih tar kalo ke Indonesia. Nice pictures 😉

    Like

    1. Makassar destinasi wisatanya keren-keren…masih ada air terjun Bantimurung dan Rammang-Rammang juga. 🙂

      Like

  3. Fahmi says:

    desember 2011 saya kesini, tapi sayang lagi di renovasi total si Fort Rotterdam, jadinya kurang bisa enjoy sisi historicnya secara maksimal 😦

    Like

  4. mau tanya dong, kalo dari Bandara ke losmen semeru jauh ga? ada kendaraan umum apa yang bisa ditempuh ya? thx.

    Like

    1. Bandara Hasanuddin letaknya jauh dari pusat kota, 45 menit sampai satu jam menuju kota tergantung arus lalu lintas. Bisa dicoba naik taxi atau naik angkutan umum yang harus oper dua kali.
      Hotel Semeru beralamat di Jalan Jampea dekat pelabuhan kapal pelni.

      Like

  5. Silvia says:

    Kalau dari losmen semeru ke bantimurung, ada angkutan umum ga ya ?
    Mendingan sewa mobil atau naik angkutan umum ya ?
    Boleh diinfokan lebih detail ga ya, kalau mau naik angkutan umum dari bandara ke losmen semeru? thx.

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Dari losmen Semeru harus ke Karebosi dulu dan ambil angkutan dari sana dua kali baru sampai ke Bantimurung. Kalau pergi rombongan, ada baiknya sewa mobil agar waktu tidak terbuang lama.
      Angkutan umum dari Semeru menuju Bandara bisa ambil angkutan (pete pete) jurusan Maros, kalau mau cepat bisa pakai taxi. Semoga membantu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s